Seks memang tiada pernah habisnya diperbincangkan, dari jaman dahulu sampai sekarang seks merupakan hal yang paling banyak dicari dan disukai semua orang. Seks pun identik dengan kenikmatan, asalkan dilakukan dengan benar, tepat dan efektif.
Salah satu contoh seks tanpa penetrasi yang efektif mencapai orgasme yaitu seks oral. Seks oral adalah stimulasi genital pasangan dengan mulut atau lidah. Kemampuan memberi dan menerima seks oral semakin menjadi bagian penting dalam bercinta.
Oral seks adalah bagian dari kegiatan seks yang sangat mengasyikkan. Karena mulut dan lidah juga termasuk bagian tubuh yang sangat sensitif, bagian ini juga dipenuhi dengan syaraf-syaraf yang gampang menerima rangsangan tak ubahnya seperti organ seks yang lain. Sebenarnya praktek-praktek kegiatan seksual dengan oral ini sudah ada sejak dulu.
Hampir semua pria senang melakukan oral seks. Sensasinya luar biasa. Hasil penelitian seks standar di seluruh dunia menyatakan kaum pria telah mengakuinya bahwa oral seks sebagai kegiatan sensual yang digemari. Sementara wanita cenderung pasif dalam setiap hubungan seksual, malah terkadang wanita terlambat melakukan ejakulasi dibandingkan pria.
Hal itu terjadi karena pria sangat dituntut memiliki berbagai macam cara dalam memberikan dan mendapatkan kepuasan. Dan, oral seks sebagai salah satunya. Tetapi banyak wanita yang enggan melakukannya dengan alasan berbeda-beda.
Askmen dalam rilisnya menyebutkan dari 10 pria yang didata, tujuh di antaranya menyenangi oral seks sebagai pemanasan (foreplay) yang wajib dalam bercinta.
Banyak pria mengatakan, bahwa oral seks merupakan suatu kombinasi antara panas, tekanan dan lembab. Jadi dalam melakukannya harus tercipta ketiga faktor tadi dengan menggunakan media tangan dan mulut. Sensasi yang didapat lebih baik dengan tangan dan mulut daripada bagian tubuh lainnya. Hal penting lagi dalam melakukan oral seks, usahakan pasangan dalam posisi yang rileks.
Belajar menjadi ahli dalam oral seks membutuhkan waktu dan latihan, juga sangat diperlukan zona nyaman bagi pasangan. yang perlu diingat, oral haruslah tanpa paksaan, jadi dengan landasan saling membutuhkan. Kemudian pastikan juga kondisi tubuh sudah dalam keadaan bersih. Variasi posisi lidah dan mulut, style dan teknik akan sangat membantu untuk menemukan titik sentuhan yang tepat.
Oral sex merupakan suatu aktivitas yang membutuhkan keahlian dan suatu bentuk seni. Kuncinya adalah pasangan menyukai apa yang Anda kerjakan, merasa nyaman dan percaya diri dan rasakan kegiatan ini sebagai suatu perjalanan yang menyenangkan bagi Anda dan pasangan. Gunakan lubrikan/pelumas yang beraroma.
Dalam metodologi kuno, Geisha dalam bahasa Jepang adalah seniman atau penghibur tradisional (entertainer) di negeri sakura. Geisha sangat umum pada abad ke-18 dan ke-19, dan masih ada sampai sekarang ini, walaupun jumlahnya tidak banyak.
Dalam tugasnya tidak hanya menjdai penari dan penghibur seni saja, melainkan geisha juga akan menjadi pemuas nafsu lelaki jepang dan bahkan kekuatan mulut para geisha banyak diakui kehebatannya.
teknik para geisha melayani ‘pertempuran’ para Samurai? Ternyata para geisaha yang biasa berlutut ini memiliki teknik oral seks yang bisa membuat para Samurai era tahun 1900-an ‘bertekuk lutut’.
Dalam buku The Japanese Art of Sex: How to Tease, Seduce & Pleasure the Samurai in Your Bedroom karya Jina Bacarr, disebutkan para geisha memiliki kekuatan pada mulut yang dalam bahasa Jepang disebut shita.
inilah beberapa seni Shita Geisha :
1. Para geisha akan memberikan layanan ‘mandi kucing’ kepada para lelaki. Tak akan ada satu inchi pun bagian tubuh yang akan terlewati dari jilatan sang geisha. Ia akan memulai jilatan dari dada hingga Mr Dick, hingga sang pria siap ‘beraksi’. Ia akan terus ‘menyerang’ lawan tempurnya hingga ia juga ikutan terangsang.
2. Para geisha akan memberikan hembusan hangat pada tubuh lelakinya, seperti hembusan hangat udara di sekitar sungai Kamo di Kyoto. Sensasi hangat ini bisa berasal dari air hangat atau lotion. Termasuk pula udara hangat yang berhembus dari bibirnya. Ia lalu akan berlutut di sekitar area genital pasangannya untuk memberikan sensasi hangat dan dingin ini.
3. Sejumlah daerah yang memiliki rangsangan seksual tinggi akan mendapat perlakuan hati-hati para geisha. Seperti ketika ia menggigit kecil makanann yang diberikan kepadanya.
4. Para geisha juga biasa memberikan gigitan kecil pada Mr Dick, jari-jari tangan dan telinga. Namun ia tak akan membiarkan pasangannya mendapatkan orgasme saat bagian tubuh sang lelaki sedang berada dalam mulutnya. Ia akan terus menerus memberikan rangsangan luar-dalam, dengan mengusapkan jari pada dada pasangan dengan gerakan memutar, memijat kedua ‘bola’ atau malah menyusupkan jarinya ke dalam anus. sang geisha akan bergerak naik-turun seperti putaran angin di atas tubuh pasangannya.
Saat itu pula ia akan membuka mulutnya seperti bunga yang sedang merekah. Kepalanya lalu akan bergerak ke sisi kiri dan kanan tubuh pasangannya. Ketika bibirnya menyentuh Mr Dick, lidahnya akan membentuk pola pembuka tutup botol. Lalu ia memasukan seluruh batang Mr Dick ke dalam mulutnya dan membiarkannya beberapa detik.
5. Saat seluruh Mr Dick berada dalam mulutnya, ia akan memberikan sedikit getaran yang berasal dari tenggorokannya. Stimuli ekstra ini berlangsung sambil ia mengurut pangkal testis pasangannya.
(rifki/CN34)
Sumber: SuaraMerdeka
© 1997 - 2005 by Cyberindo Aditama. All Rights Reserved. Legal Disclaimer
Halaman
ingin mencari Jodoh?
Cari Jodoh & Pasangan
id.88db.com › Kencan & Persahabatan
Anda memberi ini +1 secara publik. Urungkan
Kencan & Persahabatan - Cari Pacar & Cewek : Mencari Pacar - Butuh Cewek & Cowok | 88DB Indonesia.Minggu, 26 Juni 2011
Minggu, 19 Juni 2011
Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial
Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial
oleh: sulandra_amen_sambas Pengarang : Vina Dwi Laning
Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial
Pengelompokan masyarakat berdasarkan perbedaannya dalam
diferensiasi sosial sangat beragam. Oleh karenanya, para ahli sosial
mengklasifikasikannya menjadi beberapa macam bentuk diferensiasi
guna memudahkan dalam mempelajarinya. Bentuk-bentuk tersebut
antara lain, diferensiasi ras, agama, etnis, profesi, jenis kelamin, dan
asal daerah.
b. Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis)
Suku bangsa adalah golongan sosial yang dibedakan dari
golongan-golongan sosial lainnya, karena mempunyai ciri-ciri
yang paling mendasar dan umum yang berkaitan dengan asal usul,
tempat asal, serta kebudayaannya. Ciri-ciri yang paling mendasar
tersebut, antara lain kesamaan dalam hal ciri fisik, bahasa daerah,
kesenian, dan adat istiadat.
Bagaimana dengan Indonesia? Secara garis besar suku bangsa
masyarakat Indonesia diklasifikasikan sebagai berikut.
1) Suku masyarakat Pulau Sumatra antara lain Aceh,
Batak, Minangkabau, Bengkulu, Jambi, Palembang,
Melayu, dan sebagainya.
2) Suku masyarakat Pulau Jawa antara lain Sunda,
Jawa, Tengger, dan sebagainya.
3) Suku masyarakat Pulau Kalimantan antara lain
Dayak, Banjar, dan sebagainya.
4) Suku masyarakat Pulau Sulawesi antara lain Bugis,
Makassar, Toraja, Minahasa, Toli-Toli, Bolang-
Mongondow, dan Gorontalo.
5) Suku masyarakat di Kepulauan Nusa Tenggara
antara lain Bali, Bima, Lombok, Flores, Timur, dan
Rote.
6) Suku masyarakat di Kepulauan Maluku dan Irian
antara lain Ternate, Tidore, Dani, dan Asmat.
Dari keterangan-keterangan di atas terlihat betapa banyaknya
suku bangsa yang dimiliki oleh Indonesia. Uniknya di antara suku
bangsa yang beragam, setiap suku bangsa di Indonesia memiliki
dasar persamaan. Seperti persamaan kehidupan sosialnya yang
berdasarkan atas asas kekeluargaan, asas-asas yang sama atas hak
milik atas tanah, asas-asas yang sama dalam bentuk persekutuan
masyarakat, dan asas-asas persamaan dalam hukum adat.
c. Diferensiasi Clan
Klan (clan) adalah suatu kesatuan atau kelompok kekerabatan
yang didasarkan atas hubungan keturunan atau hubungan darah
(genealogis) yang terdapat dalam masyarakat.
Sedangkan kekerabatan merupakan kesatuan sosial yang
orang-orangnya atau anggota-anggotanya mempunyai hubungan
keturunan atau hubungan darah. Seseorang dapat kita anggap
sebagai kerabat kita, jika orang tersebut mempunyai hubungan
darah atau seketurunan dengan kita, walaupun kita tidak pernah
saling bertemu dengan orang tersebut.
Dalam sistem kekerabatan dikenal dua hubungan kekerabatan,
yaitu patrilineal dan matrilineal. Dalam klan patrilineal, saudara
perempuan ayah dan saudara laki-laki ayah termasuk dalam satu
klan. Sedangkan anak dari saudara perempuan ego tidak termasuk
anggota klan. Masyarakat yang menganut sistem patrilineal antara
lain Batak, Mentawai, dan Gayo.
Sementara dalam klan matrilineal, saudara laki-laki ibu,
saudara perempuan ibu, saudara laki-laki ego, dan saudara
perempuan ego termasuk anggota satu klan. Tetapi anak dari
saudara laki-laki ibu dan anak dari saudara laki-laki ego tidak
termasuk anggota satu klan. Masyarakat yang menganut sistem
matrilineal antara lain Minangkabau dan Enggano.
d. Diferensiasi Agama
Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan agama? Agama
merupakan masalah esensial bagi kehidupan manusia. Hal ini
dikarenakan menyangkut keyakinan seseorang yang dianggap
benar. Keyakinan terhadap agama mengikat pemeluknya secara
moral. Keyakinan itu membentuk golongan masyarakat moral atau yang disebut umat. Menurut Durkheim, agama adalah suatu
sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang
berhubungan dengan hal-hal suci.
Diferensiasi agama merupakan penggolongan masyarakat
berdasarkan agama atau kepercayaan. Di Indonesia dikenal agama
Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Selain itu,
berkembang pula agama atau kepercayaan lain seperti Konghucu,
aliran kepercayaan, dan kepercayaan-kepercayaan lainnya.
Penggolongan tersebut bersifat horizontal dan bukan berdasarkan
tingkatan atau pelapisan sehingga dalam diferensiasi sosial agama
tidak ada status yang lebih tinggi atau rendah karena pada dasarnya
setiap agama memiliki status yang sama.
Secara umum setiap agama mempunyai komponen-komponen
yang selalu ada. Komponen-komponen tersebut antara lain emosi
keagamaan, sistem keyakinan, upacara keagamaan, tempat ibadah
dan umat.
1) Emosi keagamaan, yaitu suatu sikap yang tidak rasional yang
mampu menggetarkan jiwa, misalnya sikap takut bercampur
percaya.
2) Sistem keyakinan, yaitu bentuk pikiran atau gagasan manusia
seperti keyakinan akan sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib,
kosmologi, masa akhirat, cincin sakti, roh nenek moyang,
dewa-dewa dan sebagainya.
3) Upacara keagamaan, yang berupa bentuk ibadah kepada
Tuhan, dewa-dewa, dan roh nenek moyang.
4) Tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura, wihara,
kuil, dan kelenteng.
5) Umat, yaitu anggota salah satu agama yang
merupakan kesatuan sosial.
e. Diferensiasi Profesi (Pekerjaan)
Profesi atau pekerjaan adalah suatu kegiatan yang
dilakukan manusia sebagai sumber penghasilan atau
mata pencahariannya. Dalam masyarakat sosial
profesi merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan
suatu keterampilan khusus. Misalnya, profesi guru
memerlukan keterampilan khusus seperti, pandai
berbicara, suka membimbing, sabar, dan sebagainya.
Di masyarakat terdapat berbagai macam profesi yang
dimiliki anggota masyarakat. Hal ini dikarenakan pengaruh industrialisasi dan modernisasi, serta kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Diferensiasi profesi merupakan
penggolongan anggota masyarakat berdasarkan jenis pekerjaan
yang dimiliki. Berdasarkan penggolongan inilah kita mengenal
kelompok masyarakat berprofesi seperti guru, dokter, pedagang,
buruh, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.
Perbedaan profesi biasanya akan membawa pengaruh terhadap
perilaku sosial seseorang di lingkungannya. Contoh, perilaku
seorang dokter tentunya berbeda dengan perilaku seorang tukang
becak ketika keduanya melakukan pekerjaan.
f. Diferensiasi Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang
berdasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan
biologis). Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ
reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya. Atas dasar
itulah, terdapat kelompok masyarakat laki-laki atau pria dan
kelompok masyarakat perempuan atau wanita.
Pada dasarnya kedudukan laki-laki dan perempuan sama,
karena mempunyai kesempatan, status, dan peran sosial yang
sama. Namun, di beberapa daerah tertentu status laki-laki
dianggap lebih tinggi daripada perempuan atau sebaliknya. Hal
ini dikarenakan adanya perbedaan fisik dan sosialisasi nilai dan
norma yang membedakan mereka. Akan tetapi, perbedaan tersebut
bersifat horizontal bukan pada tingkatan-tingkatan dalam
masyarakat.
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2141130-bentuk-bentuk-diferensiasi-sosial/#ixzz1PmqfhgAf
oleh: sulandra_amen_sambas Pengarang : Vina Dwi Laning
Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial
Pengelompokan masyarakat berdasarkan perbedaannya dalam
diferensiasi sosial sangat beragam. Oleh karenanya, para ahli sosial
mengklasifikasikannya menjadi beberapa macam bentuk diferensiasi
guna memudahkan dalam mempelajarinya. Bentuk-bentuk tersebut
antara lain, diferensiasi ras, agama, etnis, profesi, jenis kelamin, dan
asal daerah.
b. Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis)
Suku bangsa adalah golongan sosial yang dibedakan dari
golongan-golongan sosial lainnya, karena mempunyai ciri-ciri
yang paling mendasar dan umum yang berkaitan dengan asal usul,
tempat asal, serta kebudayaannya. Ciri-ciri yang paling mendasar
tersebut, antara lain kesamaan dalam hal ciri fisik, bahasa daerah,
kesenian, dan adat istiadat.
Bagaimana dengan Indonesia? Secara garis besar suku bangsa
masyarakat Indonesia diklasifikasikan sebagai berikut.
1) Suku masyarakat Pulau Sumatra antara lain Aceh,
Batak, Minangkabau, Bengkulu, Jambi, Palembang,
Melayu, dan sebagainya.
2) Suku masyarakat Pulau Jawa antara lain Sunda,
Jawa, Tengger, dan sebagainya.
3) Suku masyarakat Pulau Kalimantan antara lain
Dayak, Banjar, dan sebagainya.
4) Suku masyarakat Pulau Sulawesi antara lain Bugis,
Makassar, Toraja, Minahasa, Toli-Toli, Bolang-
Mongondow, dan Gorontalo.
5) Suku masyarakat di Kepulauan Nusa Tenggara
antara lain Bali, Bima, Lombok, Flores, Timur, dan
Rote.
6) Suku masyarakat di Kepulauan Maluku dan Irian
antara lain Ternate, Tidore, Dani, dan Asmat.
Dari keterangan-keterangan di atas terlihat betapa banyaknya
suku bangsa yang dimiliki oleh Indonesia. Uniknya di antara suku
bangsa yang beragam, setiap suku bangsa di Indonesia memiliki
dasar persamaan. Seperti persamaan kehidupan sosialnya yang
berdasarkan atas asas kekeluargaan, asas-asas yang sama atas hak
milik atas tanah, asas-asas yang sama dalam bentuk persekutuan
masyarakat, dan asas-asas persamaan dalam hukum adat.
c. Diferensiasi Clan
Klan (clan) adalah suatu kesatuan atau kelompok kekerabatan
yang didasarkan atas hubungan keturunan atau hubungan darah
(genealogis) yang terdapat dalam masyarakat.
Sedangkan kekerabatan merupakan kesatuan sosial yang
orang-orangnya atau anggota-anggotanya mempunyai hubungan
keturunan atau hubungan darah. Seseorang dapat kita anggap
sebagai kerabat kita, jika orang tersebut mempunyai hubungan
darah atau seketurunan dengan kita, walaupun kita tidak pernah
saling bertemu dengan orang tersebut.
Dalam sistem kekerabatan dikenal dua hubungan kekerabatan,
yaitu patrilineal dan matrilineal. Dalam klan patrilineal, saudara
perempuan ayah dan saudara laki-laki ayah termasuk dalam satu
klan. Sedangkan anak dari saudara perempuan ego tidak termasuk
anggota klan. Masyarakat yang menganut sistem patrilineal antara
lain Batak, Mentawai, dan Gayo.
Sementara dalam klan matrilineal, saudara laki-laki ibu,
saudara perempuan ibu, saudara laki-laki ego, dan saudara
perempuan ego termasuk anggota satu klan. Tetapi anak dari
saudara laki-laki ibu dan anak dari saudara laki-laki ego tidak
termasuk anggota satu klan. Masyarakat yang menganut sistem
matrilineal antara lain Minangkabau dan Enggano.
d. Diferensiasi Agama
Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan agama? Agama
merupakan masalah esensial bagi kehidupan manusia. Hal ini
dikarenakan menyangkut keyakinan seseorang yang dianggap
benar. Keyakinan terhadap agama mengikat pemeluknya secara
moral. Keyakinan itu membentuk golongan masyarakat moral atau yang disebut umat. Menurut Durkheim, agama adalah suatu
sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang
berhubungan dengan hal-hal suci.
Diferensiasi agama merupakan penggolongan masyarakat
berdasarkan agama atau kepercayaan. Di Indonesia dikenal agama
Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Selain itu,
berkembang pula agama atau kepercayaan lain seperti Konghucu,
aliran kepercayaan, dan kepercayaan-kepercayaan lainnya.
Penggolongan tersebut bersifat horizontal dan bukan berdasarkan
tingkatan atau pelapisan sehingga dalam diferensiasi sosial agama
tidak ada status yang lebih tinggi atau rendah karena pada dasarnya
setiap agama memiliki status yang sama.
Secara umum setiap agama mempunyai komponen-komponen
yang selalu ada. Komponen-komponen tersebut antara lain emosi
keagamaan, sistem keyakinan, upacara keagamaan, tempat ibadah
dan umat.
1) Emosi keagamaan, yaitu suatu sikap yang tidak rasional yang
mampu menggetarkan jiwa, misalnya sikap takut bercampur
percaya.
2) Sistem keyakinan, yaitu bentuk pikiran atau gagasan manusia
seperti keyakinan akan sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib,
kosmologi, masa akhirat, cincin sakti, roh nenek moyang,
dewa-dewa dan sebagainya.
3) Upacara keagamaan, yang berupa bentuk ibadah kepada
Tuhan, dewa-dewa, dan roh nenek moyang.
4) Tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura, wihara,
kuil, dan kelenteng.
5) Umat, yaitu anggota salah satu agama yang
merupakan kesatuan sosial.
e. Diferensiasi Profesi (Pekerjaan)
Profesi atau pekerjaan adalah suatu kegiatan yang
dilakukan manusia sebagai sumber penghasilan atau
mata pencahariannya. Dalam masyarakat sosial
profesi merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan
suatu keterampilan khusus. Misalnya, profesi guru
memerlukan keterampilan khusus seperti, pandai
berbicara, suka membimbing, sabar, dan sebagainya.
Di masyarakat terdapat berbagai macam profesi yang
dimiliki anggota masyarakat. Hal ini dikarenakan pengaruh industrialisasi dan modernisasi, serta kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Diferensiasi profesi merupakan
penggolongan anggota masyarakat berdasarkan jenis pekerjaan
yang dimiliki. Berdasarkan penggolongan inilah kita mengenal
kelompok masyarakat berprofesi seperti guru, dokter, pedagang,
buruh, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.
Perbedaan profesi biasanya akan membawa pengaruh terhadap
perilaku sosial seseorang di lingkungannya. Contoh, perilaku
seorang dokter tentunya berbeda dengan perilaku seorang tukang
becak ketika keduanya melakukan pekerjaan.
f. Diferensiasi Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang
berdasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan
biologis). Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ
reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya. Atas dasar
itulah, terdapat kelompok masyarakat laki-laki atau pria dan
kelompok masyarakat perempuan atau wanita.
Pada dasarnya kedudukan laki-laki dan perempuan sama,
karena mempunyai kesempatan, status, dan peran sosial yang
sama. Namun, di beberapa daerah tertentu status laki-laki
dianggap lebih tinggi daripada perempuan atau sebaliknya. Hal
ini dikarenakan adanya perbedaan fisik dan sosialisasi nilai dan
norma yang membedakan mereka. Akan tetapi, perbedaan tersebut
bersifat horizontal bukan pada tingkatan-tingkatan dalam
masyarakat.
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2141130-bentuk-bentuk-diferensiasi-sosial/#ixzz1PmqfhgAf
Langganan:
Komentar (Atom)